Sejarah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Tidak sedikit orang yang bertanya, termasuk warga NU sendiri… apa itu ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul ‘Ulama)?

Pertanyaan itu wajar mengingat ISNU merupakan badan otonom (Banom) NU yang paling muda. Oleh karenanya, belum banyak diketahui orang. Meski sudahdideklarasikan pada 19 November 1999 (11 Rajab 1420 H) di Surabaya, ISNU baru secara resmi dikukuhkan sebagai Banom NU pada tahun 2010 lewat Muktamar NU ke- 32 di Makasar. Sebagai Banom NU, ISNU berfungsi untuk membantu melaksanakan kebijakan NU pada kelompok sarjana dan kaum intelektual yang mempunyai integritas, kejujuran, dan komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, dan keadilan yang telah diamanatkan pada muktamar NU ke-29 di Cipasung Jawa Barat pada tahun 1994.

Selain itu, ISNU baru berhasil menyelenggarakan Kongresnya yang pertama pada 17 – 19 Februari 2012 di Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur. Dr. Ali Masykur Musa terpilih sebagai Ketua Umum ISNU dalam kongres tersebut.

Fakta rentang waktu deklarasi, dikukuhkan sebagai Banom NU, sampai kongres I menunjukkan bahwa kemunculan ISNU sebagai Ormas (organisasi kemasyarakatan) bagian dari NU tidaklah mulus. 13 tahun seusasi deklarasi, baru bisa menyelenggarakan kongres. PD (Peraturan Dasar) dan PRT (Peraturan Rumah Tangga) ISNU pun baru dimiliki lewat kongres tersebut. Ketidakmulusan dimaksud bukan karena dihambat, tetapi kondisi eksisting ISNU-nya yang belum tegak.

Setelah deklarasi, ISNU bisa dianggap telah mengalami tidur panjang. ISNU baru dilihat dan diperhatikan orang setelah kongres I dibawah kepemimpinan Dr. Ali Masykur Musa, yang saat ini masih menjabat sebagai anggota BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Beberapa tokoh atau pejabat terkenal tanah air lainnya yang masuk kepengurusan ISNU pun turut mencuri perhatian orang terhadap Ormas tersebut. Misalnya,Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., SH, SU (Ketua MK RI, saat itu) sebagai Ketua Dewan Kehormatan, Dr. Marzuki Ali, M.M. (Ketua DPR RI) sebagai Ketua Dewan Ahli, Prof. Mohammad Nuh, DEA (Mendikbud RI) sebagai Wakil Ketua Dewan Ahli, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si. (Menteri Agama RI), Drs. H. Muhaimin Iskandar, M.Si. (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI), Prof. Dr. Ahmad Mubarok (mantan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat), Dra. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. (mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI di era pemerintahan Gus Dur, dan sekarang Cagub Jatim), yang masing-masing sebagaianggota Dewan Penasehat, dan lain-lain.

Harapan masyarakat, terutama Nahdliyyin, demikian besar terhadap ISNU. ISNU diharapkan menjadi katalisator kemajuan umat, bangsa dan Negara. Menguatkan kehidupan beragama yang ramah dan toleran terhadap penganut agama lain. Juga menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. ISNU bisa menjadi salah satu kekuatan Islam Indonesia yang merawat dan mengembangkan nasionalisme religius nan humanis.

Harapan tersebut di atas cukup beralasan, mengingat akidah, asas, tujuan, dan pedomanperilaku ISNU memang mendukung hal itu. Dalam PD ISNU pasal 6 dijelaskan bahwa ISNU berakidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam bidang akidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari empat madzhab (Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Junaid Al-Baghdadi dan abu Hamid Al-Ghazali. Dalam khazanah peradaban Islam, golongan Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) dikenal berkarakteristik moderat, tidak ekstrim (tawasuth), seimbang dalam segala hal (tawazun), termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits), selalu membela kebenaran dan mengedepankan keadilan (al-I’tidal, tegak lurus), dan toleran dalam bersikap (tasamuh), yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup dan keyakinan yang berbeda, tanpa harus mengakui atau membenarkan prinsip dan keyakinan berbeda dimaksud dan tanpa kehilangan jatidiri atau keteguhan pada prinsip dan keyakinan sendiri.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ISNU berasas Pancasila dan UUD 1945. Dengan demikian, ISNU menerima nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan idiil dan konstitusional, serta mengakui dan menghargai ke-Bhineka-an sebagai sesuatu yang niscaya bagi bangsa Indonesia. Juga turut berperan aktif mempertahankan NKRI.

Adapun tujuan ISNU sebagaimana termaktub dalam PD ISNU pasal 10 adalah: (1) Mewadahi kegiatan-kegiatan para sarjana, ilmuwan, dan profesional NU dari berbagai disiplin ilmu agar terarah efektif, dan efisien, sekaligus berfungsi sebagai laboratorium NU di berbagai tingkatan; (2) meningkatkan pengembangan Islam Ahlussunah wal Jama’ah, ilmu pengetahuan, dan teknologi; dan (3) meningkatkan sinergitas kegiatan NU dalam mencapai dan memperjuangkan kesejahteraan umat dan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan-tujuan tersebut diupayakan diraih melalui kegiatan-kegiatan: (1) menghimpun potensi para ilmuwan dan profesional di lingkungan NU; (2) berperan dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan sosial ekonomi dalam rangka menyiapkan generasi kepemimpinan dan sumberdaya manusia (SDM) yang berakhlak luhur, berkualitas dan terpercaya bagi Jam’iyah NU, khususnya dalam memasuki era globalisasi; (3) membentuk komunitas ilmiah; (4) menyelenggarakan berbagai kegiatan penelitian dan pengkajian yang inovatif, strategis, dan antisipatif; (5) menjembatani komunikasi antara Jam’iyah dan Jama’ah NU; dan (6) menghimpun dana untuk pengembangan dan pemberdayaan umat.

Sebagai pedoman perilaku, ISNU menjunjung tinggi akhlakul karimah serta mengembangkan ukhuwah Islâmiyahukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insâniyah yang didasari prinsip-prinsip ketulusan, keadilan, moderasi, keseimbangan dan toleransi.Juga dtegaskan, ISNU berpedoman pada Al-Qur’an, As.Sunah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas, sama halnya NU. (*)