“Peci dan Sarung Peradaban Islam di Indonesia”

0
209
views

ISNUINHIL.org, OPINI – Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 14. Dakwah Islam dilakukan dengan damai oleh Wali Songo. Era ini dianggap sebagai awal peradaban Islam di Nusantara, tidak hanya di bidang agama saja: tetapi juga bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan juga perdaganan. Wali songo melakukan pendekatan kepada masyarakat menggunakan berbagai media: melalui perkawinan, perdagangan, dan juga kesenian budaya; diantaranya Sunan Gresik dengan mengajarkan masyarakat bercocok tanam, Sunan Kalijaga dengan kesenian Wayang Kulit, Sunan Bonang dengan alat musik Bonang dan juga menciptakan tembang Tombo Ati (obat hati), Sunan Kudus membangun Masjid Demak dengan arsitektur campuraan Jawa, Hindu, dan Islam.

Strategi dakwah yang digunakan dengan kelembutan dan toleransi budaya. Budaya yang dimaksud tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Kedatangan Islam bukan untuk menghapus budaya, melainkan memperkaya khazanah budaya Nusantara. Maka budaya yang tidak bertentangan dengan aqidah Islam tidak dihilangkan, termasuk dalam berpakaian, jika di Arab ada Gamis maka di Nusantara ada Batik, Sarung, kain Ulos dan lainnya, jika di Arab memakai Sorban maka di Nusantara ada pula Blangkon, Tanjak, Peci, dll. Islam yang damai seperti inilah ciri Islam di Nusantara yang menjadikan masyarakat beragama dan berbudaya yang bisa kita rasakan sampai sekarang.

Peci diciptakan pertama kali oleh Sunan Kalijaga, sebagai khuluk atau mahkota yang diperuntukkan kepada Sultan Fattah. Namun ukurannya lebih besar dari peci yang sekarang, hanya saja fungsinya sama sebagai penutup kepala dalam sholat. Sedangkan sarung merupakan akulturasi dari berbagi budaya yang dibawa oleh para pelaut, sampai saat ini peci dan sarung menjadi pakaian khas yang digunakan ummat muslim di Indonesia, sebagai bentuk peradaban Islam.

Pakaian sejatinya adalah menutup aurat sesuai dengan firman Allah dalam surat Al – A’raf ayat 31. Maka tidak ada salahnya bila jika meamakai Peci dan Sarung, apalagi untuk beribadah sesuai ketentuan syariat Allah. Tidak hanya Peci dan Sarung saja yang menjadi Peradaban Islam dan juga budaya Nusantara, tetapi ada juga pakaian – pakaian yang lain seperti pakaian ulos di sumatera utara, pakain melayu, pakaian kebaya, dan lainnya. Sejauh menutup aurat dan tidak melanggar syariat adalah kekayaan budaya dan juga peradaban Islam di Indonesia. Inilah toleransi dalam penyebaran islam tempo dulu yang menjadi tonggak Islam sampai saat ini.

Bung Karno, pernah mengatakan bahwa peci adalah identitas bangsa Indonesia. Menjadi pembeda dengan bangsa lainnya, sejalan dengan itu Peci juga sebagai bentuk perlawanan kepada penjajah dan bentuk Nasionalisme. Sarung adalah pakain khas santri dan sebagai Identitas bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Memiliki keanekaragaman budaya yang khas. Kita patut bangga dengan keberagaman ini, Jika kita bandingkan dengan Eropa, satu bangsa dipikul oleh beberapa negara, begitupun Arab satu bangsa dipikul berbagai negara, tapi di Indonesia berbagai bangsa dipikul satu negara. Sayangnya keberagaman di Indonesia sering kali timbul pergesekan, baik antar ras, suku, agama, budaya dan lainnya.

Seharusnya keberagaman dikelola dengan baik agar kita menjadi bangsa yang besar dengan keberagaman itu sendiri. Sikap intoleran dan rasial inilah yang justru menimbulkan perpecahan bangsa. Tentunya kita tidak ingin negara kita hancur karena masalah intoleransi, padahal Rasul SAW telah memberikan contoh yang nyata dalam hal toleransi baik agama, budaya, maupun suku, pada saat beliau memimpin kota Madinah dengan semangat kebangsaan menjaga kerukunan masyarakat.

Rasulullah saw mengajarkan kita dalam hal memandang sesamanya. Apabila kita tidak dapat memandangnya ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama muslim), maka pandanglah Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan sesama bangsa), jika masih tidak bisa, pandanglah manusia itu Ukhuwah Insaniyah (Persaudaraan sesama manusia), sehingga kita menjadi ummat muslim sekaligus bangsa yang baik. Konsep yang diterapkan Rasul di Madinah ini sama dengan konsep Pancasila dan juga Bhenika Tunggal Ika di Indonesia.

Di era ini, ada sekelompok orang yang kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim dan sebagai bangsa Indonesia. Banyak yang meniru kebudayaan asing yang justru tidak tahu esensi dan fungsinya, lantas melupakan kebudayaanya sendiri. Sebagai contoh memakai Gamis ala Timur Tengah, jika sudah memakai Gamis maka merasa Islamnya paling benar dan menganggap yang memakai Peci dan Sarung adalah sebuah kesalahan, kebid’ahan, dan juga kekafiran. Padahal Gamis bukan sebagai bagian dari syariat Islam, melainkan hanya pakaian yang fungsinya sama seperti pakain Sarung dan Peci. Menganggap yang lain salah dan merasa yang paling benar hanya ia dan kelompoknya adalah sebuah kesombongan. Apabila berpendapat demikian, maka mengingkari firman Allah bahwa Rasulullah diutus sebagai “Rahmatan lil ‘alamin” rahmat bagi seluruh alam.

Bukan toleransi antar agama saja yang menjadi polemik muslim di Indonesia. Polemik aliran pun menjadi masalah yang besar, menganggap yang lain salah dan menganggap diri dan kelompoknya saja yang paling benar. Sejatinya menganggap diri yang paling benar adalah sebuah kekufuran pada ciptaan Allah yang sangat kaya akan keberagaman. Faham yang mengangap orang di luar kelompoknya kafir inilah yang justru memecah bangsa. Jika sudah menganggap orang lain kafir, maka tidak ada lagi toleransi dan kemanusiaan seperti yang diajarkan oleh Rasul saw.

Islam adalah agama yang damai. Penyejuk hati manusia dan menjadi rahmah bagi semesta alam. Islam di Indonesia bukan Islam yang keras, yang saling menyalahkan melainkan menghargai sesamanya. Menjaga aqidah ahlu sunnah wal jama’ah tanpa meninggalkan budaya bangsa dan cinta pada tanah airnya. Peci dan Sarung adalah warisan budaya bangsa dan bentuk peradaban Islam yang harus dijaga. Sebagai pakaian untuk menutup aurat dalam sholat dan dalam beragama. Sebagai ummat muslim terbesar dunia sudah sepatutnya kita menjaganya agar menjadi panutan bangsa lainnya, mencirikan bangsa yang berbudaya dengan taat beragama yang damai dalam bingkai indah Bhenika Tunggal Ika yang berazaskan Pancasila.

_____________________________________________

Agus Nurwansyah, lahir di Indragiri Hilir, 26 Agustus 1999. Alumni MA hidayatul Mubtadiin, saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Ilmu Komunikasi. Tertarik di dunia kepenulisan ketika mengambil konsentrasi Jurnalistik, selain kuliah saat ini penulis juga aktif di Komunitas Lentera Kata (KOLETA) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN SUSKA Riau. Untuk menghubungi penulis silahkan melalui; e-mail: aguswansyah99@gmail.com; ig: @agus_nurwansyah; atau WA: 082210565704.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here