Menemukan Iman | A. Tamimi

0
292
views

ISNU.org, OPINI – Sering kita dengar vonis tentang status keimanan seseorang, seperti ucapan “bahwa engkau tidak beriman”. Ungkapan semacam ini bukan hanya kita dengar dari mulut orang awam terhadap pengetahuan keagamaannya tapi juga dari vokal para mubaligh yang sering disuarakannya di masjid dan mushalla. Dalam tulisan ini, saya akan coba melihat apakah benar ada manusia yang tidak memiliki status keimanan di dalam jiwanya. Sehingga nantinya dapat menjadi evaluasi bagi kita bersama yang senantiasa menghakimi status keimanan seseorang yang hingga kini klaem tersebut hampir membudaya di tengah masyarakat, bahkan pada sisi tertentu sikap ini tak bisa dianggap enteng karena akan dapat mengundang disintegrasi sosial. Inilah urgensi pembahasan ini diketengahkan.

Iman itu Fitrah

Rudolf Otto, seorang ahli sejarah agama-agama berkebangsaan Jerman meyakini bahwa setiap manusia memiliki apa yang disebut dengan nominous, nominous ini adalah berupa rasa pengakuan dan keyakinan seseorang terhadap adanya sesuatu yang kuat, lebih besar dan lebih tinggi serta tidak bisa dijangkau oleh kuasa manusia (M.Wahyuni Nafis, 1999: 81). Dari pemahaman semacan ini memberikan isyarat bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas, karena dengan keterbatasan itu ia cenderung mengakui bahkan menyandarkan diri kepada sesuatu yang dipandang lebih besar, lebih kuat serta lebih tinggi dari segala yang ia ketahui. Objek tak terbatas yang tertanam di ruang sanubari itulah yang disimbolkan dengan istilah Tuhan yang sekaligus menjadi sandaran kepercayaan.

Kepercayaan memang sebuah kebutuhan yang mendasar dan fitrah bagi setiap manusia. Oleh karena itu tumpuan kepercayaan tentu harus kepada sesuatu yang maha mutlak, karena Ia sekaligus berfungsi sebagai sandaran nilai (Nurcholish Madjid: 1993,4). Tanpa sandaran nilai semacam ini kehidupan manusia pasti akan goyah, karena tidak punya pengangan hidup. Jadi, Tuhan adalah satu-satunya pegangan hidup bagi setiap insan yang ingin bahagia dan selamat.

Oleh karena itu, melalui beberapa argument di atas telah menguatkan keyakinan kita bahwa setiap manusia sejak awalnya telah dibekali dengan iman. Ketika Tuhan menjadikan manusia berupa bentuk (fisik) (Qs. Al-Mu’minun: 12), Ia sempurnakan bentuk itu, kemudian ditiupkan roh, lalu mereka bersujud (Qs. Al-Hijr: 29) serta benar-benar mengakui bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang harus disembah berupa ketundukan dan kepatuhan (islam). Kepastian adanya potensi keimanan itu juga dijelaskan dalam Qs An-Nur ayat 31: “Bertobatlah kamu sekalian, hai orang-orang yang beriman supaya kamu mendapatkan kejayaan”. Artinya ayat ini mengakui bahwa dalam diri orang yang sedang salah dan berlumur dosa, Tuhan masih mengakui status keimanannya. Lalu bagaimana mereka masih bisa bersikap salah jika masih punya status keimanan di dalam jiwanya?

Tidak Beriman atau Terputus Iman

Menurut Imam al-Ghazali bahwa iman seseorang terkadang naik dan terkadang pula turun, terjadi turun naiknya keimanan itu disebabkan oleh berbagai faktor (internal-eksternal). Dari pendapat ini juga menguatkan pemahaman kita bahwa keberadaan iman adalah suatu yang abadi di dalam diri, barangkali yang menjadi persoalan adalah tentang aktif atau pasifnya keimanan itu sendiri. Iman yang aktif itu ditandai dengan lahirnya kesadaran bertuhan yang turut ikut mempengaruhi prilaku baik dan etis. Sedangkan keimanan yang pasif (putus) ditandai dengan  sikap lupa diri sekaligus lupa akan yang meng-adakan diri (Tuhan), hidup jauh dari rasa syukur, hidup hanya dimaknai sebatas menghembuskan nafas serta menuggu kematian, tanpa menyadari bahwa di penghujungnya akan ada pertanggungjawaban. Makanya dalam al-Qur’an manusia diberikan gambaran: “bacalah lembaran kitabmu, cukuplah engkau sendiri hari ini yang melakukan perhitungan atas dirimu” (Qs. 17: 14) dan“ engkau akan melihat tiap umat berlutut, tiap mereka akan diajak untuk melihat sejarahnya, (Qs. 45: 28). Ketika itulah masing-masing mereka ingin menyambungkan rasa keimanan secara terus-menerus agar supaya diampuni dan diselamatkan.

Menguatkan Kesadaran Iman

Bicara iman sebenarnya lebih kepada persoalan rasa nyambung (conection), karena ada orang benar-benar nyambung ketuhan, ada yang putus nyambung, ada yang terputus namun di kala hidupnya sedang dilanda galau, penuh himpitan dan ketidak mampu atau ketika berada di penghujung hayatnya baru ia nyambung kembali ke-Tuhan. Ketika itu ada yang diberi kesempatan dan tidak sedikit pula di antara mereka yang telah ditutupi kesempatannya. Hal ini bisa kita lihat pada kasus Fir’aun, dimana ketika jasad dan nafsunya ditenggelamkan di laut merah, maka muncul yang aslinya yaitu “aku akan beriman kepada Tuhan Musa dan Harun” (amantu birabbi Musa wa harun) (Qs.  Thaha:44), tapi terlambat sudah. Jadi secara fitrah tidak ada orang yang tidak beriman, cuma yang menjadi persoalan kemudian adalah tentang komitmen iman yang telah terjanjikan ketika melakukan kontrak primordial di alam rahim dahulu. Karena bicara iman adalah persoalan janji ketuhan, lalu yang terpenting adalah tindak lanjut atas janji itu. Sebab, ada yang tepat janji dan ada pula yang ingkar akan janji, disinilah sesungguhnya yang menjadi babak penentu keselamatan seseorang di hadapan Tuhan.

Maka, beruntunglah bagi orang yang masih tetap berjalan di atas koridor janji, namun bagi yang sedang pada posisi ingkar janji atau lalai terhadap janji tentu tidak jugalah terlalu terpuruk karena masing-masing kita masih diberi waktu untuk mengevaluasi, koreksi secara total menuju keinsafan yang hakiki agar benar-benar dapat mengembalikan diri kefitrah semula yaitu diri yang suci. Semua ini tentu akan menjadi lebih baik jika setiap jiwa mampu menghargai momentum waktu yang diberi terutama saat ini. Menurut Aidh al-Qarni; waktu sesungguhnya adalah saat ini, yang kemarin telah berlalu sedangkan esoknya belum terjadi. Oleh karena itu, sebelum lonceng berbunyi mengakhiri segala kesempatan dan harapan, marilah! Kita kembali menguatkan kesadaran iman agar benar-benar menjadi hamba yang setia terhadap objek yang diimani yaitu Tuhan Maha Besar. Inilah komitmen sang hamba sejati yang telah menemukan iman lalu membumikan keimanan itu keranah jiwa.

Tulisan ini Pernah dimuat di Haluan Kepri, Jumat, 18 Januari 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here