Kerusakan Di Muka Bumi | Dima hafizul ilmu

0
280
views

ISNUINHIL.org, Tausyiah – Manusia dalam memenuhi kebutuhannya mereka senantiasa memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Semakin banyak manusia maka semakin banyak sumber daya alam yang akan habis disebabkan oleh ulah tangan mereka. Pada era modern ini pandangan manusia mengenai bumi langit dan segala isinya diciptakan untuk kepentingan manusia yang dianggap nya bebas untuk diekploitasi tanpa batas.

Meraka dengan gencarnya melakukan hal hal tersebut dengan cara mengggali lahan pertambangan, penebangan hutan liar, pembakaran hutan secara membabi buta, ekploitasi batu bara tanpa batas, reklamasi besar besaran, perusakan terumbu karang dsb.

itu semua mereka lakukan tanpa memperhatikan keadaan dan prosfek untuk generasi penerus pada masa yang akan datang. Hal tersebut jelas berdampak pada kerusakan lingkungan hidup baik didarat udara dan laut sehingga akan merugikan bagi manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu pada saat ini dunia global sedang dihadapkan oleh persoalan serius yang menentukan kelangsungan hidup umat manusia dan alam semesta. Yakni krisis lingkungan, baik udara bersih, air bersih, pemanasan atmosfer, banjir, tanah longsor, kabut asap, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, bahkan juga kriminalitas dan degredasi moral.

Padahal allah swt telah banyak mengingatkan kepada manusia agar senantiasa untuk menjaga dan merawat lingkungan di muka bumi ini.

Sebagaimana firman nya dalam surah Ar-Rum : 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Pada ayat tesebut jelas kita lihat dan rasakan pada akhir-akhir ini. dunia global saat ini sedang dihadapkan oleh persoalan serius yang menentukan kelangsungan hidup umat manusia dan alam semesta. Yakni krisis lingkungan, baik udara bersih, air bersih, pemanasan atmosfer, banjir, tanah longsor, kabut asap, gempa bumi, tsunami, ozon rusak, musim tidak lagi menentu, biota laut musnah, flora dan fauna langka, satwa punah, gunung meletus, dll

Alam semesta menurut imam tabhattaba’I bagaikan tubuh dalam keterkaitannya antara satu bagian dengan bagian lainnya, apabila salah satu bagian tidak berfungsi dengan baik, maka akan nampak damfak negatifnya pada bagian yang lain. Apalagi kita sadar dan akui bahwasanya kita hidup di muka bumi ini sangat bergantung pada alam. Jika alam telah rusak maka manusia akan merasakan akibatnya.

Padahal kita juga tahu, manusia diciptakan oleh allah dengan sempurna ia diberikan kelengkapan berupa akal pikiran, hari dan perasaan serta kelengkapan fisik biologis, agar supaya dapat mejalankan fungsi dan tugasnya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, maka hendaknya pengelolaan lingkungan yang baik dan memperhatiakn nilai nilai akhlaq baik terhadap tumbuhan, hewan, dan ekosistem lainnya.

Sebagaimana allah berfirman dalam Qs. Al-Baqarah : 30 yang berbunyi :

            وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Sebagai wakil allah, maka manusia harus bisa merepresentasikan perannya terhadap alam semesta termasuk bumi dan seisinya, diantaranya yakni memelihara dan menjaga (ar-rabb) dan menerbarkan rahmat (rahmatan) di alam semesta. Oleh karena itu kewajiban manusia terhadap alam dalam rangka pengabdiannya kepada Allah SWT adalah melakukan pemeliharan terhadap alam (hifdzun nafs) untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di alam semesta. Numun dalam hal untuk memenuhi dan mempertahankan hidupnya manusia diperkenankan oleh tuhan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara wajar (sesuai dengan kebutuhan) dan bertanggungjawab. Segala sikap, prilaku atau perbuatan manusia (lahir dan bathin) yang berkaitan dengan pemeliharaan alam harus dipertanggungjwabkan dihadapan tuhan setelah kehidupan dunia berakhir. Islam melarang pemanfaatan alam (sumber daya alam) melampaui batas atau berlebihan (isyraf)

Melestarikan lingkungan hidup merupakan tugas manusia sebagai bagian dari suatu ekosistem, yang dapat digali dari petunjuk Alquran. Dalam kehidupannya, manusia sangat terkait dengan alam, baik sebagai tempat tinggal, sumber rezeki, maupun sebagai sarana, ubudiyah kepada Allah. Manusia sebagai khalifah di muka bumi harus menjaga keseimbangan alam semesta yang Allah ciptakan dengan penuh keteraturan. Manusia adalah penguasa, pengatur, dan pemakmur bumi.

Sebaliknya tindakan perusakan lingkungan dengan melakukan tindakan eksploitatif dan pencemaran seharusnya di hindarkan karena akan berdampak buruk bagi kemaslahatan hidup seluruh makhluk hidup, khususnya manusia yang bertentangan dengan tujuan ditetapkannya syariat (maqàshid asy-syarì‘ah) dalam ajaran Islam. Segala bentuk tindakan perusakan tersebut terlarang dalam agama dan hukumnya adalah haram. Pelakunya berhak mendapat hukuman dan sangsi sesuai dengan tingkat kesalahan yang dia lakukan.

Perlu adanya revolusi spiritual keagamaan dalam menyelamatkan alam dan lingkungan hidup ini, dengan menghadirkan paradigma baru, yakni menambah aspek kecintaan manusia kepada alam, kemudian menumbuhkan kesadaran bahwa alam dan lingkungan ini adalah titipan anak cucu kita, seribu bahkan sejuta tahun yang akan datang, bukan warisan dari nenek moyang kita, agar kita tidak merusak lingkungan. Dan pada titik akhirnya hendaklah memasukkan niali spriritual Islam  ke dalam pemahaman, kajian serta  kebijakan manusia terhadap alam dan lingkungan hidup, tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan berakhir pada kerusakan lingkungan. (*)

________________________________________________

Dima hafizul ilmu, adalah mahasiswa Universitas Islam Indragiri (UNISI) Fakultas Ilmu Agama Islam Prodi Ekonomi Syariah Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here