Hancurnya Pusat Peradaban dan Literasi Umat Islam

0
152
views

ISNUINHIL.org, OPINI – Membaca adalah jendela dunia. Tradisi membaca sangat erat hubungannya dengan seorang muslim, apalagi wahyu pertama kepada nabi Muhammad Saw adalah perintah untuk membaca.

Umat Islam sangat dianjurkan untuk membaca, bukan hanya tentang agama saja, melainkan juga Ilmu pengetahuan agar membuat kita menjadi umat yang maju dan menjadi pusat peradaban dunia—seperti saat masa Bani Abbasiyah di Baghdad dan masa Bani Umayyah di Andalusia. Tetapi saat ini kondisinya muslim tertinggal jauh dari peradaban barat.

Kemunduran umat Islam tidak terlepas dari hancurnya pusat–pusat ilmu pengetahuan. Ada dua pusat peradaban literasi yang dihancurkan oleh musuh Islam: perpustakaan Baghdad dan Andalusia.

Perpustakaan di Baghdad, dihancurkan oleh pasukan Tartar dari Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Ada beberapa pemicu Mongol menghancurkan pusat peradaban Islam ini; salah satunya karena ingin menjarah kota Baghdad dan menjual buku–buku dari perpustakaan.

Kota Baghdad saat itu menjadi pusat peradaban dunia. Ilmu pengetahuan yang maju, tata kota yang canggih hingga budaya yang kental dengan nuansa keislamannya menjadi daya tarik bagi semua bangsa. Bukan hanya muslim saja yang mendatanginya tetapi juga pemburu ilmu dari penjuru dunia mendatanginya.

Peradaban dan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, sehingga mengantarkan Baghdad menjadi pusat peradaban tertinggi di dunia. Khalifah Al Makmun membangun perpustakaan yang diberi nama Bait al Hikam. Perpustakaan ini dipenuhi ribuan buku – buku ilmu pengetahuan.

Selain perpustakaan, dibangun pula akademi, sekolah tinggi dan sekolah–sekolah yang menjamur seantero negeri. Salah satunya adalah perguruan Nizhamiyyah, yang didirikan oleh Nizam al Mulk.

Banyak karya sastra yang dihasilkan dari kota Baghdad, salah satunya Alf Lailah wa Lailah, atau kisah seribu satu malam. Bidang agama, sains dan filosof juga menyumbangkan perannya bagi peradaban dan kebudayaan Islam: ada Al Khawarizm (penemu al jabar), Al Kindi (filosof Arab pertama) dan lain lain.

Bahkan, seorang penyair hebat bernama Anwari, mengabadikan dalam syairnya:

Selamat, selamatlah kota Baghdad, kota ilmu dan seni.
Tiada kota lain menandinginya di seluruh dunia.
Kota-kota satelitnya tak kalah indah dari tudung langit yang biru.
Iklimnya yang sehat menyamai hembusan angin membawa hayat dari langit.
Temboknya kemilau laksana permata dan batu delima.

Tanahnya subur berbau ambar.
Angin pagi menghembus bumi jadi sejuk laksana tuba (pohon surga).
Dan kayunya menyembunyikan dalam airnya kemanisan kautsar.
Tepi-tepi sungai Tigris dengan putri-putri nan cantik melebih (kota) Khullah
Taman-taman penuh bidadari manis seperti Kasymir dan ribuan gondola di
atas air.
Menari kemilau laksana sinar mentari di angkasa.

Peradaban Islam terpusat di kota Baghdad, dengan perpustakaan terbesar dan terlengkap di dunia. Ada berjuta–juta buku di dalamnya: agama, sejarah hingga ilmu pengetahuan. Inilah penyebab penghancuran perpustakaan sekaligus menjadi penghancuran peradaban Islam.

Masa keemasan umat Islam dimulai ketika khalifah-khalifahnya cinta kepada ilmu pengetahuan. Menerjemahkan berbagai buku dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab dan mempelajarinya; langkah tersebut memunculkan cendekiawan muslim yang hebat.

Setelah berjaya selama berabad-abad, muslim mengalami kemunduran. Dimulai dengan pejabat-pejabat pemerintah yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme hingga penyerangan dari luar yang menghancurkan Daulah Abbasiyah di Baghdad.

Kehancuran pusat peradaban dan literasi umat Islam di Baghdad dan Andalusia membuat umat muslim kehilangan kiblat sebagai pusat peradaban. Kondisi saat ini umat muslim tertinggal jauh dari Barat, bahkan sudah tertinggal jauh, pun untuk sadar literasi juga belum. Padahal maju dan mundurnya sebuah bangsa tergantung dari ilmu pengetahuan.

Sebagai generasi muda muslim, sudah selayaknya menggairahkan kembali semangat berliterasi dan menuntut ilmu seperti yang telah dicontohkan para ulama dan cendekiawan muslim masa keemasan agar kita setidaknya dapat setidaknya mengejar ketertinggalan dari Barat, dan jika bisa melampaui peradabannya.

_____________________________________________

Agus Nurwansyah, lahir di Indragiri Hilir, 26 Agustus 1999. Alumni MA hidayatul Mubtadiin, saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Ilmu Komunikasi. Tertarik di dunia kepenulisan ketika mengambil konsentrasi Jurnalistik, selain kuliah saat ini penulis juga aktif di Komunitas Lentera Kata (KOLETA) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN SUSKA Riau. Untuk menghubungi penulis silahkan melalui; e-mail: aguswansyah99@gmail.com; ig: @agus_nurwansyah; atau WA: 082210565704.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here